jump to navigation

Pendidikan Sex Usia Dini (2) Mei 18, 2010

Posted by trinil in hari-hari q.
trackback

Masih ingat akan artikel TB Pendidikan Sex Usia Dini (pesud) yang TB tulis pada bulan maret 2009 yang lalu, buat ingetin Klik Disini Aja.
Klo yang artikel pertama TB menekankan akan peran orang tua dalam menjalankan pesud. Untuk artikel kedua ini TB ingin menekankan pentingnya pesud untuk anak dan remaja.
Pesud di Indonesia memang masih menjadi kontrofersi, kebanyakan masyarakat Indonesia pendidikan sex hanya berkisar soal hubungan intim semata, padahal pendidikan sex bukan sekedar itu.
Ada usulan agar dimasukanya kurikulum pendidikan sex dalam kurikulum pendidikan nasional, diharapkan para anak dan remaja kita paham akan sex itu sendiri. Hal tersebut juga membuat kontrofersi juga karena kurang mengerti akan niat dan tujuannya.
Aku ingat sewaktu duduk dikelas 1 SMA, waktu itu ada kunjungan dari puskesmas setempat untuk melakukan sosialisasi dan konsultasi perilaku kesehatan pelajar. Sayangnya selama aku belajar di SMA selama 3 tahun hanya sekali pada waktu itu ada acara seperti itu dan hanya berlangsung 1 hari, padahal dalam acara itu pelajar diberikan kesempatan untuk bertanya sebesar2nya , bahkan untuk hal yang bersifat pribadi diberikan waktu untuk konsultasi langsung dangan dokter yang berkompeten ditempat yang disediakan sekolah (saat itu tempatnya di Lab Kimia).
Kurangnya pengetahuan sex dikalangan remaja, membuat remaja salah arah tentang sex itu sendiri.
Pendidikan sex merupakan pendidikan yang berhubungan dengan selukbeluk sex itu sendiri antara lain perbedaan pria dan wanita, pencegahan penyakit sex menular, bahayanya sex pranikah untuk untuk pelajar, bahaya aborsi dll.
Kabar terbaru dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia, menyatakan dari hasil survey yang dilakukan untuk kalangan remaja di beberapa kota besar yang ada di Indonesia (antara lain Jakarta, Surabaya dan Bandung) bahwa 32 persen remaja yang disurvey usia 14 – 18 tahun pernah berhubungan sex, dan 21,2 persen remaja putri pernah melakukan aborsi. Sebenarnya “T” tak heran dari hasil survey tersebut, bahkan menurut “T” persentasenya lebih besar dari yang dikluarkan KPAI, dan semoga “T” salah.
Pada usia remaja banyak hal yang ingin diketahui oleh remaja, meraka berapi2 dan tertantang untuk mencoba hal baru. Termasuk soal sex, banyak dari kalangan remaja karena penasaran dengan sex mereka mencoba2 tanpa adanya pengetahuan lebih tentang sex itu sendiri. Dalam Agama tidak dikenal namanya remaja, mereka mengenal hanya anak, Baligh. Dimana Baligh untuk laki2 adalah sudah kluarnya air mani/sperma, sedangkan perempuan sudah menstruasi/haid. Banyak remaja ingin mencoba karena penasaran setelah melihat berbagai visual dari pornografi dan cerita dari teman2 atau lingkungan tentang hubungan intim suami istri.
Saat mereka sudah mencoba dan merasakan kenikmatan mereka akan menjadikan hal itu sebagai kebiasaan, serta akan timbul kebanggaan dengan menceritakanya kepada teman2 klo dia sudah ML, dan itu membuat teman2nya jadi penasaran juga dan ingin mencobanya lagi. Bahkan ada pendapat dikalangan remaja jika sepasang kekasih pacaran dan tidak melakukan ML mereka disebut tidak pacaran (sebagian besar).
Remaja biasa melakukan sesuatu itu tidak berpikir jauh kedepan.

Pengalaman T untuk pendidikan sex di sekolah adalah pada saat mengikuti pramuka pmr, karena pada saat ikut organisasi tersebut T mengetahui banyak akan sex itu sendiri. Memang tak semua pelajar yang ikut organisasi tersebut bisa paham n mengerti akan pendidikan sex. Karena sebagian menganggap masuk kuping kanan kluar kuping kiri karena sudah meraakan keenakannya.

Kenyataan saat ini merupakan gunung es yang sudah mulai mencair, kita bukan saatnya menyalahkan dan disalahkan, melainkan bagaimana kita memperbaikinya. Mernurut T pesud sangat diperlukan, karena dengan pesud anak dan remaja diberitahu tentang sex itu sendiri. Sebenarnya pesud saat ini diperlukan untuk mencegah penyebaran penyakit sex menular antara lain HIV/AIDS, rajasinga dll. Saatnya semua elemen masyarakat sepaham akan hal ini. Txs

Komentar»

1. Coba Diklik - Mei 26, 2010

Iya betul gan, kenyataannya memang seperti gunung es ya.

2. trinil - Juni 3, 2010

Yoi gan….

3. andini sekar pamungkas - Juni 21, 2010

pendidikan sex pada anak usia dini dirasa sangat perlu agar tidak terjadi penyimpangan nantinya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: