jump to navigation

Belajar dari Pengalaman Juli 15, 2010

Posted by trinil in hari-hari q.
trackback

Masih ingat akan semangat piala dunia kemarin, semua orang rela “melek” pada dini hari hanya untuk nonton. Kalo ga sanggup nonton relaynya, hehehe…
Keajaiban terjadi di PD 2010 ini, banyak tim yang dijagokan orang2 pada kandas di awal maupun tengah kompetisi. Kontroversipun tak luput juga untuk mengikutinya.
Masih ingatkah kita saat andres iniesta pada menit 116 menjebol gawang Belanda, yang kemudian mengukuhkan Spanyol menjadi tim yang baru pertama kali masuk final PD dan langsung jadi juara. Ambisi Belanda untuk menjadi juara PD pada kesempatan ketiga ini di hancurkan. Memang pertandingan mereka penuh dengan ketidak Fair Play-an. Baik kubu Belanda maupun Spanyol, lebih banyak Belanda sih menurutku. Muller yang mendapatkan sepatu emas dan title pemain muda terbaik pun harus pulang dengan prestasi timnasnya menduduki urutan ketiga yaitu Jerman. Forlan yang mencetak gol indah saat melawan Jerman harus membawa Uruguai pulkam dengan urutan keempat. Timnas perwakilan Asiapun harus pulang lebih dahulu dari tim2 diatas, karena mereka tersisih dahulu. Korea Utara harus pulang lebih dahulu dari rekan2 asianya Jepang dan Korea Selatan. Korut tetap hepi meskipun mendapatkan gelar timnas terbanyak kebobolan gol.

Setiap orang Indonesia yang menonton PD pasti punya Impian, Kapan TIMNAS berlaga di PD. Tapi impian itu dari Indonesia merdeka sampai sekarang hanya sekedar Impian. Bagaimana mungkin TIMNAS masuk PD kalau di ASEAN saja sepakbola kita tertinggal jauh dari negara2 tetangga, paling kita masih diatasnya Timor Leste.
Penurunan prestasi sepakbola kita sebenarnya mengenai manajemen sepakbola itu sendiri. Otoritas sepakbola yang dipegang oleh PSSI “amburadul”, bahkan kepemimpinanpun tak ada di PSSI.
Sudah saatnya PSSI melakukan reformasi baik kepemimpinan maupun manajemen, dan itu semua bisa dimulai dengan adanya regenerasi kepemimpinan dan organisasi. PSSI sebentar lagi akan melakukan pergantian pengurus merupakan momen yang tepat untuk melakukan itu semua, pertanyaanya apakah pengurus2 yang ada di PSSI skg mau diganti??????????????????????????????????????????????????????????????
Begitu juga para supporter club juga harus melakukan reformasi, yaitu jangan ada keributan dan kerusuhan. Kadang kita lihat saat tim kesebelasannya bertanding dan kalah mereka langsung marah dan melakukan kerusuhan pengrusakan yang itu semua merupakan tindakan kriminal.
Pemain dan Tim juga tak luput dari reformasi, mereka harus benar2 bermain fair play dan semangat dan berlatih maupun bertanding untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam bermain sepakbola, serta penguatan mental, kadang pemain suka marah2 kepada wasit bahkan sampai ada pemukulan dan WO.
Apakah kita bisa belajar dari pengalaman2 itu tadi bahkan belajar dari pengalaman2 negara2 yang sukses dalam sepakbolanya. Ada yang berpendapat bahwa kemampuan dan kekuatan suatu bangsa dilihat dari tim sepakbolanya???

%d blogger menyukai ini: